Jumat, 20 Juni 2008

PENINDASAN DALAM DUNIA ANAK

Penindasan adalah aktivitas sadar, disengaja dan keji yang dimaksudkan untuk melukai, menanamkan ketakutan melalui ancaman agresi lebih lanjut dan menciptakan teror.
Penindasan akan selalu melibatkan empat unsur berikut : ketidakseimbangan kekuatan, niat untuk mencederai, ancaman agresi lebih lanjut dan teror.
Terdapat tiga jenis penindasan: verbal, fisik dan relasional.
A. Penindasan Verbal
Kata-kata adalah alat yang kuat untuk melukai hati dan mematahakan semangat anak yang menerimanya. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dibisikkan di hadapan orang dewasa dan teman sebaya tanpa terdeteksi. Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan – baik yang bersifat pribadi maupun rasial – dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang lain dengan kasar, tulisan-tulisan yang mengintimidasi atau mengancam, serta gosip.
B. Penindasan Fisik
Yang termasuk jenis ini adalah memukuli, mencekik, menyikut, menendang, meninju, menggigit, mencakar, meludahi dan merusak serta menghancurkan barang-barang milik anak yang tertindas, meskipun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius. Anak yang secara teratur melakukan penindsan jenis ini kerap merupakan penindas paling bermasalah di antara para penindas lainnya, dan paling mempunyai kecenderungan beralih untuk melakukan tindakan-tindakan kriminal yang lebi serius.
C. Penindasan Relasional
Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan paling kuat. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti, pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu bergidik, cibiran, tawa mengejek dan bahasa tubuh yang kasar.
Ada banyak alasan mengapa beberapa anak menggunakan kecakapan dan bakat mereka untuk menindas orang lain. Temperamen bawaan sejak lahir adalah sebuah faktor. Namun, ada juga faktor lain, yaitu apa yang Urie Bronfenbrenner katakan sebagai pengaruh lingkungan: kehidupan di rumah, kehidupan di sekolah, masyarakat serta budaya (termasuk media) yang mengizinkan atau mendorong perilaku itu. Satu hal yang harus diketahui secara pasti adalah bahwa para penindas diajari untuk menindas.
Terdapat tujuh tipe penindas, yaitu:
1) Penindas yang percaya diri
Ia memiliki ego yang besar, kebanggaan diri yang berlebihan, perasaan berhak dan berkuasa, serta kesukaan pada kekerasaan; dia juga tidak memiliki empati pada sasaran penindasannya. Ia akan merasa nyaman ketika ia merasakan keunggulan dari orang lain.
2) Penindas sosial
Ia menggunakan desas-desus, gosip, penghinaan verbal, penghindaran untuk mengisolasi targetnya secara sistematis dan menyingkirkan mereka dari aktivitas-aktivitas sosial. Ia cemburu pada sifat positif orang lain dan memiliki kebanggaan diri yang parah, namun ia menyembunyikan perasaan-perasaan dan ketidaknyamanannya dalam selubung kepercayaan diri dan kehangatan yang berlebihan.
3) Penindas bersenjata lengkap
Ia biasanya dingin dan terpisah. Ia memperlihatkan sedikit emosi dan memiliki tekad yang kuat untuk melaksanakan penindasannya. Ia mencari kesempatan untuk menindas ketika tak seorang pun akan melihat atau menghentikannya. Ia kejam dan penuh balas dendam.
4) Penindas hiperaktif
Biasanya ia memiliki ketidakcakapan belajar, memiliki kesulitan dalam berteman, kerap bereaksi agresif pada provokasi yang ringan sekalipun dan menyebutnya sebagai tanggapan terhadap kesalahan dari luar.
5) Penindas yang tertindas
Karena tertindas dan disakiti oleh orang-orang dewasa atau anak-anak yang lebih tua, ia menindas yang lain sebagai obat bagi ketidakberdayaannya dan kebencian akan dirinya sendiri.
6) Kelompok penindas
Penindasan dilakukan oleh sekelompok anak-anak manis yang mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan adalah keliru dan bisa menyakiti targetnya, namun mereka tetap saja menindas.
7) Gerombolan penindas
Awalnya, mereka bergabung hanya untuk menjadi suatu keluarga yang dihormati dan dilindungi. Namun, karena fanatisme yang berlebihan mereka berubah menjadi aliansi strategis yang dapat menguasai, mengontrol, mendominasi, menduduki dan menjajah.

(disarikan dari Penindas, Tertindas dan Penonton, Barbara Coloroso, Serambi 2006)